oleh

Atasi Persoalan Hutan, Kecamatan Lunyuk kembangkan Kelor dan Pinang

SUMBAWA BESAR, Media Sumbawa,- Pemerintah Kecamatan lunyuk, berupaya untuk mengatasi persoalan hutan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di wilayah setempat, seperti memanfaatkan kelor dan pinang. Saat ini diketahui, dari sekitar 54 ribu hektar kawasan hutan di Kecamatan Lunyuk, sedikit 4.300 hektar telah beralih fungsi menjadi garapan masyarakat.

“Dari awal saya masuk masuk Lunyuk, informasi dari KPH dari 54 ribu hektar kawasan ada 4.300 hektar lahan yang sudah digarap masyarakat. Itupun itu angka minimal, karena setiap tahun ada pembukaan perladangan,” kata Iwan Sofyan, Camat Lunyuk melalui saluran telepon, Rabu (18/12).

Diungkapkan, setelah Lunyuk terjadi hujan beberapa waktu lalu, beberapat titik terjadi longsor dan menyapu beberapa fasilitas umum, seperti sekolah, jalan raya dan sedikitnya 2 kilometer saluran irigasi. “Memang titik parah akibat longsor itu di SMP. Ada juga Ada sekitar 2 km saluran inirigasi terkena dampak longsor. Terus di Jelapang sudah kena ke badan jalan. Bahkan sekarang akses terganggu. Bahkan kalau mobil lewat itu terancam bisa jatuh lagi,” jelasnya.

Sehingga, untuk mengatasi persoalan sedikti 4.300 hektar kawasan hutan yang beralih fungsi tersebut, Pemerintah Kecamatan Lunyuk membangun kesepahaman dengan seluruh pihak yang ada dan masayarakat. “Kalau kita melihat sekarang orang saling menyalahkan. Kami coba ikhtiar, coba melihat dan ternyata ada hal yang bisa kita lakukan. Sekarang kita sedang menyatukan pandangan, membangun keyakinan mulai dari tim kecamatan desa sampai dusun sampai padu. Itu bersama KPH,” ucapnya.

Dijelaskan, sejak beberapa bulan lau, Pemerintah Kecamatan Lunyuk telah melakukan pembibitan kelor dan satu bulan lalu telah melakukan pembibitan sekitar 400 ribu pinang. Sehingga dua jenis tanaman tersebut akan ditanam ke kawasan hutan yang telah digarap, sembari menunggu benih tanaman kayu hutan.

Baca Juga:  Gubernur Dr. Zul Minta Bentuk Tim Khusus Permudah Koordinasi Petani Tembakau

“Akan kita tanam tiga bulan kedepan. Lebih baik kelor ketimbang jagung, mudah didapat dan mudah tumbuh. Janurai ini kita akan mulai pada skala pagar dulu, untuk tumbuhkan kebiasaan menanam. Kemudian ke lahan. Kami akan bentuk satu kelompok untuk 40 hektar, agar memudahkan dalam pengawasan dan pembinaan,” jelasnya.

Selain itu, tanaman kelor dan pinang juga dapat memberikan nilai ekonomis, yang diharapkan dapat menumbuhkan perekonomian masyarakat. Dan nantinya, Bumdes masing-masing desa diinstruksikan tambahan suntikan dana Rp 100 juta untuk memasarkan hasil kelor dan pinang masyarakat.

“Setelah lihat daerah lain, nilai jual kelor besar untuk jangka panjang. Untuk mengantisipasi membludaknya kelor dan pinang, kita modali Bumdes 100 juta pertahun untuk fokus pasarkan ke investor. Tahun depan juga, mudah-mudahan sudah ada industrinya untuk kelor di Lunyuk,” katanya.

Untuk menyamakan persepsi tentang hutan, setiap hari dilakukan pertemuan dengan masyarakat petani ternak per dusun di kantor camat. Agar dapat mengontrol ternaknya ketika program sudah mulai berjalan. Sebab, untuk menyelamatkan tanaman kelor dan pinang, musti terbebas dari gangguan ternak. Dan nantinya, kelor dapat menjadi tanaman tambahan untuk pakan ternak.

“Persoalahn memelihara, terkait dengan peternakan. Kita juga kumpulkan pemilik ternak untuk sampaikan program ini untuk dikandangkan ternaknya. Nanti juga kelor bisa jadikan pakan ternak dicampur dengan pakan yang lain. Sekarang ini setiap hari kami sosialisasikan per dusun,” ujarnya. (MS/MU)

Komentar

Berita Pilihan