Jajaran KPU Sumbawa Belajar Teknik Menulis dan Foto Jurnalistik

Politik195 views

SUMBAWA BESAR (mediasumbawa.com)- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sumbawa menggandeng Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumbawa, menggelar Workshop PPID Tahun 2022. Kegiatan yang digelar di Aula KPU Sumbawa, Kamis (29/12) malam ini, diikuti Ketua dan Anggota KPU beserta jajarannya.
Bertajuk “Internalisasi dan Pengembangan Informasi Publik dan Konten Media Social dalam Pelaksanaan Pemilihan Umum Tahun 2024” Workshop yang dipandu Sekretaris KPU Lahmuddin SE tersebut menghadirkan tiga narasumber.
Yaitu Ketua PWI Sumbawa, Zainuddin dengan materi “Literasi Digitalisasi di Indonesia”, Koordinator IJTI Sumbawa Hendri Sumarto dengan materi “Jurnalistik Foto” dan Pimpred Gaung NTB, Abu Sufyan Muchtar dengan materi “Bercerita dalam Tulisan”.
Ketua KPU Sumbawa, M Wildan M.Pd saat membuka kegiatan tersebut menyampaikan bahwa workshop ini digelar agar jajarannya memiliki wawasan bagaimana cara menulis yang baik dan benar sehingga dapat dengan mudah menyampaikan informasi kepada masyarakat terutama tentang tugas kelembagaan maupun kepemiluan.
Selama ini jajarannya memiliki kemampuan menulis yang masih minim. Sementara tuntutan publik dalam mengakses informasi harus cepat, dan terupdate. Selain membuat counter informai melawan hoaks menjadi hal yang perlu dipersiapkan dengan baik.
Sebab diakui Wildan, banyaknya disinformasi (hoaks) kepemiluan membuat kepercayaan publik pada lembaga KPU menurun. Hal itu perlu dirubah dalam tatacara pengelolaan Humas melalui rilis media dan media sosial secara konsisten.
Dengan adanya workshop dan menghadirkan narasumber yang berkompeten, menjadi solusi bagi persoalan di internal KPU. Ia berharap jajarannya dapat mengikuti kegiatan tersebut secara serius sehingga pengetahuan yang diperoleh dari narasumber dapat diterapkan dalam mendukung tugas-tugasnya nanti.
Sementara itu Ketua PWI Sumbawa Zainuddin dalam materinya menyampaikan bahwa masyarakat terutama di Kabupaten Sumbawa harus memiliki literasi digital yang cukup bagus. Karena dengan kemampuan itu, masyarakat dapat mengetahui sisi manfaat dan bahayanya penggunaan teknologi digitalisasi.
Di era digitalisasi ini, semua orang sangat mudah dan cepat mendapatkan informasi. Hanya dengan menggunakan gadget, masyarakat bisa memperoleh dan menyebarkan informasi apapun yang diinginkan. Salah satunya melalui media social dengan memanfaatkan beragam platform seperti youtube, whatsapp, instagram, facebook dan twitter.
Banyak informasi yang diterima, tidak hanya informasi yang benar dan positif tapi juga yang hoaks (informasi bohong). Konten politik termasuk di dalamnya terkait kepemiluan menjadi konten yang paling banyak mengandung isu hoaks.
Menjelang pemilu, biasanya rentan muncul penyakit informasi. Adalah mis-informasi, dis-informasi dan mal-informasi. Kerap juga ditemukan modus-modus kampanye negative berisi konten ujaran kebencian dan hoaks.
“Media social menjadi media paling dominan ditemukannya kampanye negative karena cenderung mudah diprovokasi dan diviralkan oleh banyak orang untuk disebarluaskan yang tujuannya penggiringan opini,” jelas Jen—sapaan CEO Samawarea.com ini.
Disebutkan Jen, banyak cara untuk mengidentifikasi hoaks. Di antaranya sumber informasi atau medianya tidak jelas identitasnya, judulnya provokatif, pihak yang menyebarkan informasi meminta info tersebut disebarluasan secara massif.
Selain itu berita tidak didukung foto atau video. Dan berita atau informasi itu tidak mengandung unsur 5W + 1H. Cara lain mengidentifikasi hoaks adalah dengan memeriksa kebenaran informasi itu melalui laman Kominfo cekfakta.com atau turnbackhoax.id.
Sedangkan Abu Sufyan Muchtar yang akrab disapa Bang Ancus, menjelaskan bagaimana teknik membuat berita yang baik dan menarik. Menurutnya, semua orang bisa membuat berita. Hanya dengan memenuhi unsur 5W+1H (what, who, when, where, why dan how), sudah menjadi sebuah berita. Namun tidak semua orang bisa membuat berita yang menarik dan bernilai.
Ada beberapa elemen yang membuat berita itu bernilai. Yakni, dampak berita terhadap khalayak, kedekatan dengan pembaca, ketepatan waktu, terkini, konflik dan human interest.
Sebenarnya, ungkap Sekretaris PWI Sumbawa ini, banyak hal menarik yang bisa diberitakan dari KPU. Mulai dari data, manusia, proses, regulasi hingga organisasi. Semua itu bisa menjadi lead yang menarik untuk diberitakan.
Sementara Hendri Sumarto memaparkan secara lengkap teknik-teknik pengambilan foto maupun video, ada yang merupakan kategori foto jurnalistik, ada yang tidak. Untuk kategori foto jurnalistik menurut Hendri—sapaan singkat CEO Ai9News.com ini, tak jauh beda dengan menulis, harus memenuhi unsur 5W+1H.
Dijelaskannya, banyak teknik pengambilan foto berdasarkan sudut pengambilan gambar (angle). Di antaranya Frog Eye, Over Shoulder, Low Angle, High Angle, Eye Level, Bird Eye dan Slanted.
Penggunaan teknik dalam pengambilan gambar kata Hendri, dinilai sangat penting, karena akan menentukan fokus dan sejumlah hal lainnya yang ingin diambil. Dengan menggunakan teknik yang tepat, akan mampu menghasilkan foto atau video yang bagus dan professional. (Ms/sp)

Komentar