Disnakeswan Sumbawa Antisipasi Penyakit LSD Ternak

Pemerintahan133 views

Sumbawa Besar, mediasumbawa.com – Setelah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), para peternak kini kembali dikhawatirkan dengan munculnya penyakit baru yang menyerang ternak mereka yakni penyakit Lumpy Skin Disease (LSD). Penyakit LSD ini sudah merebak di beberapa provinsi di Pulau Jawa. Namun untuk Nusa Tenggara Barat (NTB) sendiri, khususnya Kabupaten Sumbawa masih terbebas dari penyakit yang menyerang sapi dan kerbau tersebut.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Kabupaten Sumbawa H. Junaidi mengatakan, hingga saat ini belum ditemukan adanya ternak yang menderita penyakit LSD. “Sampai saat ini belum ada dan mudah-mudahan penyakit LSD pada ternak ini tidak sampai ke Kabupaten Sumbawa,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (26/1).

Meskipun belum ditemukan jelas Haji Jun-akrabnya disapa, pihaknya tetap melakukan beberapa langkah antisipasi. Salah satunya dengan melakukan monitoring lapangan. “Kita sudah meminta untuk melakukan monitoring di lapangan. Jika nantinya ada ditemukan, maka untuk dengan segera melaporkan dan juga segera ditindaklanjuti,” tambahnya.

Sementara Kepala Bidang Kesehatan Hewan Disnakeswan Sumbawa, Rini Handayani menjelaskan, LSD merupakan penyakit pada hewan khususnya sapi dan kerbau yang disebabkan oleh virus pox. Adapun beberapa ciri-cirinya yaitu terjadi benjolan atau adanya gumpalan pada kulit hewan dan suhu hewan tinggi. “LSD adalah penyakit pada hewan yang disebabkan oleh virus pox dan cirinya bentol-bentol. Dia menyerang sapi dan kerbau. Kebetulan kita di sini (Kabupaten Sumbawa, red) paling banyak sapi sama kerbau, artinya menjadi perhatian kita,” katanya.

Diterangkannya, penularan penyakit LSD bisa melalui kontak langsung dengan hewan terjangkit. Kemudian melalui darah, leleran hidung dan mata, air liur, dan susu. “Ini sama dengan PMK bukan penyakit zonosis. Dia memang merusak dagingnya jadi penampakannya tidak bagus. Namun dagingnya masih bisa dikonsumsi, yang rusaknya dihilangkan, dan dimasak pada suhu 65 derajat celcius selama 30 menit,” jelasnya.

Terhadap adanya penyakit LSD, pihaknya saat ini mewaspadai lalu lintas ternak. Pihaknya juga akan bersurat kepada para pengusaha ternak untuk lebih berhati-hati dalam mendatangkan ternak dari luar daerah. Terlebih dari daerah yang sudah terkonfirmasi LSD. “Langkah awal yang harus dilakukan jika adanya gejala LSD, peternak diharapkan mengisolasi ternaknya atau pisahkan dengn yang sehat, kemudian menyemprotkan disinfektan. Jadi karena penularannya lewat vektor seperti lalat, japlak, nyamuk, serangga terbang ini. Kebetulan kami sudah droping banyak disinfektan ke UPT Produk dan Kesehatan Hewan yang ada di Kecamatan silahkan masyarakat bisa minta ke UPT untuk disemprotkan,” pungkasnya. (msg)

Komentar