oleh

Konversi Gas Berjalan, Mitan Mulai Langka

Sumbawa Besar-Media Sumbawa

Kelangkaan Minyak Tanah (Mitan) mulai dikeluhkan oleh masyarkat Kabupaten Sumbawa beberapa pekan terakhir ini, terutama bagi ibu rumah tangga (IRT) yang masih menggunakan kompor untuk memasak sehari-hari. Pangkalan yang dulu memasok atau menjual Mitan, sebagian besar kini telah dialihkan dengan menjual Gas, adapun mitan yang diperoleh dengan harga yang pantastis dari Rp 4.000 menjadi Rp 15.000 bahkan sampai Rp 25.000/liter.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Koperasi UMK Perindustrian dan Perdagangan Drs. H. Arif, M.Si,. yang dikonfirmasi diruang kerjanya, Selasa (26/11/2019) mengatakan bahwa, pasokan minyak tanah saat ini telah mulai dikurangi, hal ini karena tengah berjalannya proses transisi peralihan dari mitan ke Gas. Sehingga berdampak pada dikuranginya pasokan minyak tanah namun belum dihilangkan.

“Jadi dalam proses transisi peralihan dari mitan ke gas ini akan memicu kenaikan harga. Tapi tetap sesuai yang disepakiti, karena HET itu haknya masyarakat dan tidak boleh berspekulasi, sehingga masyarakat jangan sampai dirugikan,”

Oleh karena itu, kepada para pelaku pasar untuk tidak bermain dengan mencari keuntungan sebesar-besarnya dan jika ada spekulan yang ingin meraup keuntungan besar, lebih baik segera hentikan. Kami bersama aparat penegak hukum, tidak main-main. Tidak boleh ada orang yang dirugikan kerena permainan itu, tegas Arif (Sapaan akrab Kadis Diskoperindak ini).

Namun untuk diketahui, peralihan mitan ke Gas ini merupakan kebijakan pemerintah pusat dan bukan kebijakan Pemerintah Derah. Untuk itu masyarakat diharapkan agar dapat beradaptasi.

“Jadi, kami berharap agar masyarakat dapat beradaptasi dengan perubahan kebijakan ini, karena perubahan mitan ke LPG ini merupakan kebijakan yang baik, yang harus kita sambut baik karena disamping murah, dia itu juga ramah lingkungan,” jelas Arif (Sapaan akrab Kadis Diskoperindak Ini).

Baca Juga:  Garam Labuhan Kuris Menuju Sertifikasi SNI

Menurut Arif, ada beberapa kemungkinan kenapa masyarakat mengeluh, yang pertama, mungkin masih kesulitan menyesuaikan diri, bagaimana kebiasan dulu sampai sekarang sehingga tiba-tiba beralih dari mitan ke Gas, yang kedua, psikologi masyarakat, seperti takut meledak, tidak bisa menggunakan LPG dan lain-lain.

“Harapan kami, apapun kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat saat ini, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dan semua instansi maupun organisasi terkait harus terpanggil untuk menyelesaikan persoalan ini secara cepat,” tutup Arif. (MS/Cr)

Komentar

Berita Pilihan