oleh

Direktur PCBM Resmikan Prosesi ‘Basanyata’ Restorasi Istana Sultan Sumbawa

Sumbawa Besar, Media Sumbawa
Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (PCBM) Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI secara resmi membuka Prosesi “Basanyata”  (pemasangan kuda-kuda) Restorasi Istana Sultan Sumbawa, Senin (9/12) di Istana Bala Putih. 
Dalam sambutannya, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (PCBM) Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Fitra Ardha menyatakan, pelestarian cagar budaya mengandung makna yang merupakan upaya dinamis untuk mengupayakannya umur panjang. ”Tidak hanya cagar budayanya saja tetapi juga nilai yang terkandung dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya,” ujarnya 
Dikatakan, prosesi ini merupakan bagian dari pada pelestarian kebudayaan dan prosesi hari ini penting karena merupakan bagian dari nilai apa yang dilakukan, sehingga  dapat mengambil filosofinya. Prosesi kegiatan pemugaran merupakan bagian dari kemajuan kebudayaan yang pada akhirnya akan kesejahteraan masyrakat. ”Jadi menurut saya ini menjadi sangat penting, sehingga diharapkan penyelesaiannya sampai akhir dan dijadikan sebagai destinasti yang betul-betul dirasakan kehadirannya oleh masyarakat dan prosesi basanyata ini menjadi bagian terpenting bahwa memberikan pengumuman kepada masyarakat bahwa suatu saat nanti Istana ini akan memiliki nyawa dan menjadin kebanggaan bersama,” tutupnya
Semetara itu, Bupati Sumbawa dalam sambutannya yang disampaikan oleh Asisten Administasi Umum Sekda Kab. Sumbawa Ir. H. Iskandar D. M.Ec.Dev, menyampaikan, Istana Bala Putih merupakan istana terakhir yang dibangun pada masa kesultanan Sumbawa dan peletakan batu pertamanya berlangsung pada tahun 1932 yang menjadi kembaran dari istana di Kesultanan Bima. 
Dikatakan, Istana Bala Putih memiliki banyak peran selama Pemerintahan di Kab. Sumbawa. ”Sempat menjadi pusat pemerintahan di Kab. Sumbawa, bahkan ketika gedung kantor Bupati Sumbawa terbakar sekitar tahun 2004 dan selama tiga tahun proses pembangunan kantor Bupati itu menggunakan Istana Bala Putih sebagai pusat pemerintahan Kab. Sumbawa. Kemudian setelah itu digunakan sebagai wisma praja, untuk menjamu tamu-tamu pemerintah, jadi cukup banyak perannya selama pemerintahan di Kab. Sumbawa,” tukasnya.
Terkait dengan prosesi Basanyata, menurutnya di dalam adat Sumbawa, upacara basanyata ini masuk kedalam tatanan upacara tahap menengah menjelang tahap akhir di dalam penuntasan sebuah bangunan di Sumbawa. Upacara basanyata ini sebagai tahapan pertengahan menjelang masuk tahap penuntasan penangan pembangunan bangunan rumah di Sumbawa yang sudah mulai menggarap bangunan atas atau atap. ”Jadi basanyata itu hanya berlaku pada saat kita menggarap bagian atas dari rumah. Jadi kalau mulai pondasi itu belum bernama basanyata, setelah menggarap bagian atas dan meletakkan kuda-kuda kemudian sampai kepada pemasangan sirap genteng atau penutup atap itu tetap dalam rangkaian basanyata,” ujarnya.
Diharapkan pelaksanaan acara basanyata ini dapat berlangsung secara baik, sehingga kelanjutan pembangunan Istana Bala Putih ini akan tetap bisa diteruskan. (msg)

Baca Juga:  Bupati Sumbawa Minta Kades Terpilih Tidak Pecat Perangkat Desa

Komentar

Berita Pilihan